Pengaruh Kegiatan Perkuliahan Terhadap Pembentukan Pola Berpikir Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya



Fakultas ilmu budaya memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk mahasiswa untuk memiliki wawasan yang luas tentang dunia sekitarnya. Fakultas ini mengajarkan tentang bagaimana cara berpikir terbuka mengenai suatu fenomena yang terjadi, tidak hanya terpaku pada suatu kebudayaan saja, melainkan mampu memahami kebudayaan lain sehingga mahasiswa memiliki pola berpikir yang luas. Ketika kita mampu memahami kebudayaan lain, maka akan semakin mudah kita memahami cara pandang pemilik kebudayaan tersebut. Hal tersebut tentunya menjadikan kita memiliki rasa toleransi yang tinggi terhadap perbedaan. Manusia hidup tidak terlepas dari kebudayaan, kebudayaan merupakan kebiasaan yang telah menjadi cara hidup, pola berpikir dan menjadi pegangan hidup masyarakat di daerah tertentu.
Manusia dan kebudayaan akan selalu berkaitan, karena seiring dengan berjalannya waktu kebudayaan akan mempengaruhi karakter seseorang. Contoh sederhananya saja seorang anak yang terlahir dari keluarga keraton pastilah berbeda dengan anak yng besar dikalangan pinggiran. Anak tersebut biasanya akan mendapat didikan tata krama ala kebangsawanan yang sangat memperhatikan kesantunan. Bisa dipastikan didikan yang seperti ini awalnya akan sangat dirasakan sulit bagi si anak, tapi lama-kelamaan didikan itu akan menjadi kebiasaan atau budaya oleh si anak. Disadari atau tidak, nantinya kebiasaan/budaya ini membentuk karakter anak tersebut, sehingga semakin lama didikan-didikan yang awalnya dianggap sulit akan menjadi kebiasaan yang sudah sangat melekat sampai kapanpun. Begitu juga dengan kebudayaan, dengan kita mempelajari kebudayaan yang baru mungkin kita akan mengalami kesulitan di awalnya, tapi lama kelamaan semua akan menjadi kebiasaan.
Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa manusia lain, mereka saling membutuhkan dalam kehidupan ini.  Sehingga sikap saling menghargai sangat lah diperlukan, mengingat kenyataan bahwa Indonesia terdiri atas berbagai suku bangsa, dan segala keanekaragaman budaya yang tercermin dalam berbagai aspek kebudayaannya, yang biasanya tidak lepas dari ikatan-ikatan (primodial) kesukuan dan kedaerahan. Sikap saling menghargai dapat terlaksana ketika kita mampu berpikiran terbuka mengenai suatu hal terutama perbedaan.
            Terdapat hubungan antara ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Sebelum membahas mengenai kaitan antara ilmu pengetahuan dan kebudayaan, perlu diketahui bahwa sampai saat ini masih banyak kesimpangsiuran mengenai pemakaian istilah pengetahuan dan ilmu pengetahuan. Pengetahuan atau knowledge adalah hal tahu atau pemahaman akan sesuatu yang bersifat spontan tanpa mengetahui seluk beluknya secara mendalam. Ciri pengetahuan adalah tidak terbuka akan usaha bantahan atas dasar pengamatan dan pemeriksaan. Sedangkan ilmu pengetahuan atau science adalah pengetahuan yang bersifat metodis, sistematis, logis. (Adisusilo, 1983:9) Ilmu merumuskan kebudayaan sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik manusia dengan belajar. Hal tersebut berarti hampir seluruh tindakan manusia adalah “kebudayaan” karena hanya sedikit tindakan manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang tidak perlu dibiasakan melalui belajar. Kebudayaan itu tercipta berkat manusia mempunyai akal budi dan pengetahuan maupun ilmu pengetahuan merupakan bagian terpenting dari kebudayaan manusia. Adisusilo, 1983:10)
Ada beberapa dasar filsafat yang sangat berkaitan dengan Fakultas Ilmu Budaya, dasar filsafat yang membuat mahasiswa ilmu budaya pada umumnya memiliki pola berpikir yang berbeda. Beberapa diantaranya adalah: Sebagai disiplin ilmu-ilmu budaya tentu saja harus berdasar kepada tiga esensi dasar dalam filsafat dan ilmu pengetahuan, yaitu epistemologis, aksiologis, dan ontologis.
Dalam ontologis biasanya dipertanyakan apa yang ingin kita ketahui. Epistemologis dipertanyakan tentang bagaimana kita mengetahuinya. Sedangkan pada aksiologis ditanyakan nilai apa yang berkembang pada pengetahuan yang kita ketahui. Ketiga dasar filosofis ini tentu saja dapat diaplikasikan dalam menjawab munculnya ilmu-ilmu budaya di tengah-tengah ilmu pengetahuan yang bersifat saintifik.
Dalam sistem perkuliahan mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya diberi bekal mengenai pemahaman mata kuliah filsafat tersebut. Dasar-dasar ilmu filsafat tersebut yang menjadikan mahasiswa ilmu budaya dapat memandang suatu fenomena serta permasalahan dari berbagai sudut pandang. Sudut pandang yang berbeda, bisa menimbulkan penilaian yang berbeda pula dalam menyikapi suatu hal. Seperti cerita tentang orang buta yang mencoba mendeskripsikan seekor gajah. Suatu ketika orang-orang buta itu diminta untuk mendeskripsikan gajah tersebut, mereka pun mulai menyentuh bagian-bagian tubuh gajah tersebut. Orang buta yang pertama berkata bahwa gajah seperti batang pohon, bundar dan tebal. Orang buta yang kedua membantah dan mengatakan sebaliknya bahwa gajah itu panjang dan lentur, orang buta yang ketiga berkata bahwa mereka berdua salah, gajah itu lebar dan melingkar seperti disk raksasa. Padahal apa yang mereka jelaskan hanyalah berupa bagian-bagian dari tubuh gajah (kaki, belalai, telinga). Mereka salah dalam menilai gajah secara keseluruhan, karena pengalaman mereka terbatas hanya dalam bagian-bagian tubuh gajah saja.
Untuk melakukan pendekatan yang baru terhadap masalah yang sama, kita harus melihat masalah tersebut dengan perspektif yang berbeda. Jika kita hanya melakukan hal yang sama, kita juga akan selalu mendapatkan hasil yang sama. Ketika solusi baru telah didapatkan, kita harus merubah perspektif kita terhadap sebuah masalah. Ketika kita dapat mengeksplorasi sisi lain dari sebuah masalah, baik itu visual, fungsional, atau strategis, kita akan melihat sesuatu yang baru, yang memimpin kita menuju kreativitas dan inovasi yang sesungguhnya. Ketika apa yang kita lihat hanya telinga dan kaki, kita hanya membutuhkan belalai untuk membuat kita mengerti akan bentuk gajah yang sesungguhnya.
Disaat yang lain bilang bahwa tokoh Antagonis adalah sesuatu yang salah tidak pantas dan tidak ada benarnya sama sekali. Kenapa saya justru berpikir sebaliknya. Toh, Dunia ini tercipta dari banyaknya hukum sebab akibat. Satu keberadaan menimbulkan reaksi. Sebuah eksistensi menimbulkan retensi. 
Seorang pembunuh pasti memiliki alasan yang kuat mengapa mereka harus membunuh. Alasan yang membuat mereka harus melakukannya, secara sadar atau tidak, dengan kemauan atau tidak. Bukankah begitu?
Bukan membela pembunuh! Atau membela yang salah, saya tau sampai kapanpun mereka tetap bersalah tapi hanya melihat dari sisi lainnya! 
Persoalan tentang kriminalitas misalnya. Banyak orang menjadi pelaku kriminal karena keadaan yang memaksanya melakukan tindak kriminal, kemiskinan misalnya. Sedangkan mereka memiliki kewajiban untuk menghidupi keluarganya. Jalan keluar singkatnya untuk menangani persoalan kriminalitas tersebut adalah dengan meningkatkan keamanan. Padahal kriminalitas terkait erat dengan kemiskinan. Kemiskinan  berkaitan dengan kesalahan kebijakan pemerintah dalam melakukan pertumbuhan yang merata. Bukan berkaitan dengan keamanan.
Bagi penganut agama Islam bahkan diajarkan untuk berfikir objektif yang tercermin pada ayat.
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Al-Baqarah Ayat 216)
Esensi dari ayat di atas adalah agar umat Islam harus berpikir objektif, netral dan tidak memihak, sehingga bisa mengambil nilai baik atau buruk dalam segala aspek kehidupan.
Disamping ketidak lengkapan fasilitas serta sarana prasarana kampus yang ada di Fakultas Ilmu Budaya. saya sangat bangga dapat belajar banyak di fakultas tersebut. Saya merasa lebih mampu melihat permasalahan dari berbagai sudut pandang, serta lebih kritis terhadap suatu fenomena yang ada. Hal tersebut saya rasakan semenjak mengikuti sistem perkuliahan di FIB. .







 Referensi

https://filsafatindonesia1001.wordpress.com/tag/filsafat/
http://actdisain.com/kreatif-dan-inovatif-melihat-masalah-dengan-perspektif-yang-berbeda/



Comments

Popular Posts