TAKARAN KESUKSESAN: Masa Depan Bukan Perkara Keberhasilan dalam Pendidikan Formal
Masa
depan merupakan tujuan hidup kita sekarang, bukan lagi hanya sebuah angan-angan
atau sebuah mimpi saja, akan tetapi sebuah tujuan nyata yang akan kita raih.
Memiliki masa depan yang cerah pasti menjadi tujuan hidup semua orang.
Berbicara mengenai masa depan yang cerah, masyarakat pada umumnya beranggapan
pendidikan formal mempunyai peran yang besar dalam menentukan masa depan dan
kesuksesan seseorang. Pendidikan formal sendiri merupakan jalur pendidikan yang terstruktur
sesuai dengan kurikulum dan berjenjang, terdiri atas pendidikan anak usia dini,
pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Pendidikan formal
memang penting untuk meningkatkan kompetensi seseorang, akan tetapi pendidikan
tidak hanya meliputi pendidikan formal saja, melainkan pendidikan non formal
dan informal.
Masyarakat pada umumnya beranggapan bahwa pendidikan
formal merupakan hal yang sangat menentukan tingkat keberhasilan seseorang.
Sehingga para orangtua selalu berpikiran untuk memberikan pendidikan formal
yang terbaik, memilih sekolah yang terbaik, dengan harapan kelak sang anak
menjadi orang yang terpelajar dan mempunyai kedudukan yang tinggi. Terkadang
orang tua memaksakan kehendaknya dalam memilih pendidikan formal, tanpa memberi
kesempatan sang anak untuk memilih. Beberapa orang berpikiran bahwa manusia
akan sulit berkembang dan menjadi terbelakang tanpa pendidikan formal.
Sekolah seolah-olah mempunyai hak penuh untuk
mengatakan bahwa seseorang pintar atau bodoh hanya dengan pedoman prestasi
akademik, nilai mata pelajaraan tertentu serta hasil perolehan rangking.
Padahal hal tersebut justru akan menurunkan kepercayaan diri seseorang. Setiap orang
memiliki kelebihan masing-masing pada bidang tertentu. akan tetapi orangtua
pada saat ini akan lebih bangga ketika anaknya pintar dalam matematika daripada
ahli dalam bidang seni. Seorang anak yang mempunyai prestasi akademik buruk
bukan berarti anak tersebut bodoh. Pada
kenyataannya ada banyak seniman, musisi, olahragawan, teknisi atau wartawan
sekalipun yang memiliki kompetensi mumpuni dibidang masing-masing bukan karena
diperoleh melalui jalur pendidikan formal, melainkan pendidikan informal maupun
pendidikan nonformal. Seperti Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti
yang hanya tamat SMP tetapi memiliki perusahaan besar dan sukses menjadi
seorang menteri.
Ada sebuah analogi, terdapat suatu kelas beranggotakan ikan, gajah, kucing, ular, dan kera.
Suatu hari Guru berkata “Akan ada ujian hari ini. Ujiannya adalah memanjat,
berenang, salto, dan berlari.” Ujian pertama dimulai, yaitu ujian memanjat. Mereka diwajibkan terampil memanjat pohon untuk lulus dalam ujian
ini. Untuk Kucing, ular, dan kera mungkin sangat mudah dalam mengerjakan ujian
ini. Mereka berlomba sampai ke tempat tertinggi lebih dahulu. Lalu, bagaimana
dengan gajah dan ikan? Gajah memikirkan cara untuk memanjat tanpa harus
merobohkan pohon karena badannya yang besar. Sang ikan jangankan memanjat, baru
keluar saja dia sudah hampir mati. Siapa yang dapat nilai tertinggi? Tentu si
kera. Dia sudah terbiasa memanjat pohon. Namun, untuk ujian berenang, salto,
dan berlari, belum tentu dia dapat nilai tertinggi. Dalam ujian berenang, ikan
jagonya. Salto? Mungkin kera bisa.
Analogi tersebut adalah gambaran dari pendidikan formal. seseorang
mempunyai kemampuan yang berbeda-beda. Ketika Ikan tidak lolos dalam ujian
memanjat, bukan berarti ikan bodoh. Karena ikan mampu memperoleh nilai yang
tinggi dalam ujian berenang. Begitu pun apabila seseorang tidak mampu
mendapatkan nilai tinggi dalam bidang akademik, bukan berarti masa depan orang
tersebut tidak cerah. Setiap orang mempunyai kelebihan masing-masing dalam
bidang tertentu. Dan mereka akan meraih kesuksesan apabila mereka mau belajar
dan menekuni kelebihan tersebut.
Sistem pendidikan di Indonesia dari zaman dahulu sampai pada saat
ini, masih belum mampu sepenuhnya untuk
menjawab tantangan zaman untuk mencapai masa depan yang lebih cerah. Padahal
kita telah menyadari bahwa di masa yang akan datang kemajuan suatu negara tidak
hanya ditentukan oleh kekayaan alam akan tetapi juga seberapa berkualitas
sumber daya manusia yang dimiliki negara tersebut. Di sini lah pendidikan mempunyai peran utama untuk
menigkatkan kualitas sumber daya manusia.
Proses pendidikan yang baik adalah bilamana
pembelajaran dapat memberikan hasil akhir yang tidak hanya berhenti pada nilai
berupa angka, tetapi sebuah kompetensi terkait dengan pembelajaran yang
diperoleh dan kemampuan dalam mengaplikasikannya di kehidupan nyata. Tidak ada
ukuran yang saklek mengenai keberhasilan masa depan seseorang. Setiap orang
mempunyai tolok ukur tersendiri untuk menentukan tingkat kesuksesan dalam hidup
mereka. Ketika impian masa depan seseorang tidak dapat ia raih. Bukan berarti
ia gagal, mimpi mereka hanya berbelok. Kegagalan hanyalah permainan presepsi
saja.



Comments
Post a Comment